Home Bisnis Si Hitam Manis Penujang Ekonomi Di Desa Sungai Kuruk I

Si Hitam Manis Penujang Ekonomi Di Desa Sungai Kuruk I

1

Desa sungai kuruk 1 termasuk salah satu desa penghasil gula aren terbanyak diantara desa sungai kuruk lain nya seperti desa sungai kuruk II dan sungai kuruk III. Di Desa sungai kuruk sekitar  ada 10 kepala keluarga yang menjadi pembuat gula aren.

Pohon aren atau pohon beregat dalam bahasa sehari hari masyarakat sungai kuruk I atau dalam bahasa latin Arenga pinnata adalah pohon serbaguna yang mana tidak hanya airnya tetapi buah dan pohonya juga bisa di gunakan, yang mana buahnya bisa dijadikan sebagai manisan yaitu kolang kaling, dan pohonya bisa dijadikan kayu bakar.

Pohon aren adalah jenis tanaman tahunan yang berukuran besan dan juga tinggi yang mana tingginya bisa mencapai 20 meter. Pohon aren dapat tumbuh hingga berdiameter 65 cm dan tinggi mencapai 15 hingga 20 meter. Pohon aren banyak tumbuh di hutan-hutan dan ditempat semak belukar.

Bahan pembuatan gula aren masih melimpah di desa sungai kuruk I. Sebagian besar warga di desa ini mengandalkan pohon aren sebagai penjunjang ekonomi mereka. Bisanya pembuat gula aren diwariskan dari turun temurun.

Karena tidak semua orang bisa mengambil air aren karena dalam mengambil air aren diperlukan beberapa keahlian, karena dalam pengambilan air aren ada beberapa proses yang perlu dilakukan agar pohon aren menghasilkan air nira yang banyak. Jika sesorang yang kurang mampu melakukan beberpa proses ini maka air aren yang dihasilkan bisa jadi sedikit atau sama sekali tidak menghasil kan air aren. Beberapa proses nya antara lain yaitu :

  • Pertama pembuat gula aren harus membersih kan terlebih dahulu pohon aren tersebut dari ijuk-ijuk yang dimiliki pohon aren agar nanti saat pembuan gula aren mengambil air anennya terhindar dari ijuk-ijuk yang tajam sehingga mudah untuk mengambil air aren tanpa ada halangan dar ijuk-ijuk aren tersebut.
  • Kedua pembuat gula aren harus memukul pohon aren yang memliki tangan aren atau tempat keluarnya air aren, memukul pohon aren dilakukan bebapa kali. Langkah ini lah menyebakan sedikitnya orang yang bisa mengabil air aren karena banyak yang tidak bisa melakukan hal ini. Karena katanya ada nada-nada tertentu saat pemukulan pohon aren dimana tidak semua orang bisa melakukannya ini dan nada-nada tersebut diwariskan turun temurun hal ini adalah salah satu penyebab sedikitnya pembuat gula aren.

Si hitam manis gula aren masih banyak peminatnya, gula aren tak kalah pentingnya dengan gula pasir. Dimana banyak pembuatan makan memerlukan gula aren dalam pembuatan makananya. Apalagi dibulan ramadhan gula aren semangkit banyak peminatnya dan terkadang tak terpenuhi kebutuhan gula aren dipasar yang disebakan terbatasnya air aren yang dihasilakan dari pohon aren.

Sebelum menjadi gula aren yang manis banyak proses yang harus dilalui agar menghasilkan gula aren yang berkulitas dan bermutu. Pohon aren diambil airnya atau dideres atau disadap atau dirie dalam bahasa warga sungai kuruk I, dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore,

dan biasanya air aren pagi lebih banyak dari pada air aren sore kenapa, karena jaga waktu untuk mengumpulkan air aren dipagihari terbilang lama karena kurang lebih 16 jam air aren ditampung menggunakan jerigen.

Sedang air yang disore hari hanya sekitar 8 jam air aren ditampung dalam jerigen dari hal ini tenulah air aren dipagi hari lebih banyak dari pada air aren sore hari. Banyaknya air aren ang dikeluarkan pohon aren juga sangat tergantung pada curah hujan yang terjadi, biasanya jika memasuki musim penghujan maka air aren bisa jadi dua kalilipat dari hari biasanya dan sebaliknya jika musim kemarau maka air aren yang dihasilakan bisa berkurang.

Air aren juga mudah berubah rasa yang mana air aren yang manis dan sedikit kasanaman tapi menyegarkan berubah rasa menjadi masam yang disebabkan zat gula yang terkandung di air aren mengalami fermentasi oleh bakteri sehinga rasa nya menjadi asam.

Ada cara yang ampuh yang dilakukan pembuat gula aren agar air aren yang dihasilanya tidak berubah rasa menjadi asam, karena jika rasa air aren berubah rasa menjadi masam maka gula yang dihasilkan akan menjadi masam tidak lagi manis dan dampak terparahnya air aren yang masam tidak bisa menghasilkan gula aren tetapi menjadi gula terek dalam bahasa kami yaitu gula yang tidak bisa di cetak menjadi gula merah.

Maka solusinya pembuat gula aren mencamputkan cairan yang berasal dari rendaman air kayu nangka dan kapur sirih kedalam jeregen untuk menampung air aren.

Setelah air aren dikumpulkan maka air aren dimasak dalam wajan yang besar dan dimasak dengan api yang  besar agar air aren mengental dengan cepat.

Bisanya air aren yang dipanaskan akan membentuk gelembung yang besar seperti foto dibawah.

Agar gelembung besar tidak tumpah maka pembuat gula aren akan memberikan perutan kelapa untuk mengurangi gelembung tersebut. Air aren di masak berjam-jam kurang lebih 4 sampai 5jam tergantung keceptan api pada saat pemanasan. Air aren dimask hingga mengental dan menjadi gula dan berubah warna menjadi coklat.

Setelah itu dicetak menggunakan  bambu yang sudah di bentuk bulat, air aren yang mengental dituang dicetak dicetakan bambu.

Setelah mengeras barulah cetakan bambu dilepas dan air aren kini berubah menjadi gula aren yang hitam manis kesukan masyarakat. Gula aren yang sudah jadi dipasarkan dengan kisaran harga dari 17.000 hingga 25.000.

Penulis : Syarifah

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here