Home Food Seupet, Kue Warisan Masa Kesultanan Aceh

Seupet, Kue Warisan Masa Kesultanan Aceh

3

Semua daerah pasti memiliki makanan khas masing-masing yang terus dijaga sampai hari ini. Biasanya, di hari lebaran kue khas tersebut pasti akan terlihat tidak kecuali di Aceh.

Salah satu kue khas di tanah rencong saat lebaran tiba itu yakni Seupet atau kue jepit yang selalu dirindukan masyarakat Aceh di hari kemenangan kala bertamu ke rumah famili.

Seupet ini merupakan kue khas masyarakat Aceh yang diwariskan pendahulunya secara turun-temurun, sampai hari ini masih terus dirawat dan dilestarikan.

Orang Aceh sampai ke makanan membuat corak ragam hias, bukan hanya di bangunan saja. Begitu lah cara orang Aceh mencintai seni dan tradisi.

Kue seupet memiliki berbagai macam, ada yang dijepit berbentuk segitiga dan juga digulung. Tetapi kebanyakan masyarakat Aceh membuatnya model segitiga. Dilihat secara kasat mata, kue seupet ini hampir sama dengan semprong khas daerah Jawa Barat.

Kue seupet ini dibuat dengan cara dijepit menggunakan dua lempeng besi sambil dibakar. Setelah didiamkan beberapa menit, sudah bisa langsung diambil. Saat masih lembek itu lah dibuat bentuknya, apakah segitiga maupun model gulung.

Menariknya dari kue seupet yang berbahan dasar tepung beras itu, terdapat hiasan seni seperti bunga dan berbagai corak lainnya, sehingga sangat memanjakan mata tamu di rumah kala berlebaran.

Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid menjelaskan, corak ragam hias orang Aceh memang tidak hanya dibangunan saja, seperti di masjid, mimbar, kain songket, peci dan lainnya. Tetapi juga sampai ke makanan.

Seperti pada kue seupet, kata Tarmizi, seni orang Aceh memang tidak hanya diperlihatkan pada bangunan atau kain saja, tetapi juga pada barang habis pakai seperti makanan. Semua itu karena kecintaan terhadap seni.

“Orang Aceh sampai ke makanan membuat corak ragam hias, bukan hanya di bangunan saja. Begitu lah cara orang Aceh mencintai seni dan tradisi,” kata Tarmizi A Hamid .

Tarmizi menyampaikan, corak ragam hias itu berkembang sejak masa kesultanan Aceh yang terus dipertahankan sampai sekarang. Semua corak itu bermakna untuk menjaga alam.

“Jadi semua corak ragam yang kita temui di Aceh ini semua corak ragam berdasarkan dedaunan. Itu melambangkan kecintaan orang Aceh pada alam dan lingkungan,” ujarnya.

“Orang Aceh juga akan senang jika ada tamu yang memuji corak ragam pada kue, apalagi kalau ditanyakan tentang kue tersebut, seperti siapa yang membuatnya,” tutur pria yang akrab disapa Cek Midi ini.

Bahan yang digunakan membuat kue seupet itu yakni tepung beras, santan kelapa, telur dan gula. Adonan tersebut kemudian dimasukkan sedikit-sedikit ke dalam cetakan besi, dan dibakar sampai mengering.

Selanjutnya, ketika sudah matang atau sedikit mulai menguning maka bisa langsung diangkat, dan segera dilipat atau menggulungnya sebelum mengeras. Karena ketika sudah keras tidak bisa dibentuk lagi. [sumber:tagar.id]

3 COMMENTS

  1. […] Sarang-sarang burung manyar ini banyak dijumpai dipohon-pohon kelapa yang berdekatan dengan perkarangan sawah, karena burung ini termasuk salah satu jenis burung pemakan biji-bijian (granivora) terutama padi, sehingga menjelang musim panen tiba burung manyar ini mencari rumput-rumput ataupun jerami untuk membuat sarang. Pohon yang dipilih untuk membuat sarangnya adalah pohon kelapa diarea persawahan karena pohon kelapa memiliki batang dan daun yang kuat sehingga terlindungi dari angin dan hujan serta terlindungi dari serangan burung lain. […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here