Azan Asar baru saja berkumandang di Masjid Tua Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Beberapa warga bergegas mengambil wudu lalu melaksanakan salat secara berjemaah.

Sekitar 15 menit berselang, para jemaah keluar dari masjid. Beberapa di antara mereka memilih langsung meninggalkan masjid. Sementara sebagian lagi masih bertahan.

Di sana, mereka menuju ke sebuah bangunan tanpa dinding yang berada sekitar 20 meter dari kaki pintu depan masjid itu. Dari jarak 10 meter, kepulan asap tampak meluap di atas kuali berdiameter 1,5 meter.

Di depan kuali, tampak seorang laki-laki tua sedang menggerak-gerakkan tangannya, mengaduk masakan menggunakan centong pengaduk. Kepulan asap di dalam kuali membumbung hingga setengah meter.

Sebelah kanan kuali, puluhan timba ukuran kecil tampak berderetan. Bentuk dan warnanya beragam macam. Namun, warna biru tua mendominasi.

Sekitar 1 meter ke belakang, beberapa warga berdiri tak beraturan, ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka sedang menunggu masakan matang untuk dibawa pulang.

Tradisi ie bu peudah ini sudah dimulai sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam, jadi sudah sangat lama dan masih bertahan sampai sekarang.

Itulah gambaran sekilas suasana proses memasak ie bu peudah di Masjid Tua Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Ie bu peudah adalah bahasa Aceh yang artinya bubur nasi pedas.

Saban hari, warga Desa Bueng Sidom memasak ie bu peudah dan membagikan kepada seluruh warga sebagai takjil berbuka puasa. Ie bu peudah adalah salah satu kuliner khas Kabupaten Aceh Besar. Kuliner ini hanya ada saat memasuki bulan Ramadan.

Memasak ie bu peudah pada bulan Ramadan sudah menjadi tradisi di desa tersebut. Kebiasaan ini sudah ada sejak masa nenek moyang dan dilakukan secara turun temurun.

Meski Aceh dan Indonesia secara umum sedang dilanda pandemi virus corona atau Covid-19, tradisi memasak ie bu peudah tetap dilaksanakan. Ini adalah bagian dari warga dalam merawat tradisi.

Ie bu peudah ini memang kita buat tiap bulan Ramadan, dengan bahannya beras, beras ini memang ada sawah untuk ie bu peudah, sudah diwakafkan dari dulu untuk memasak kuliner.

Kuliner ie bu peudah, diracik menggunakan berbagai bahan rempah-rempah seperti kunyit, lada hitam, lada putih, oen sitahe (daun tahe) dan lain sebagainya. Oen sitahe adalah tanaman khas Kabupaten Aceh Besar. Tanaman ini dapat ditemukan di pegunungan Aceh Besar.

Yang khasnya adalah oen sitahe, ada memang ditanam khusus. Selama ini pesannya di gunung Blang Bintang.

Sebelum dicampur dengan bahan rempah-rempah lainnya, oen sitahe terlebih dahulu ditembuk oleh perempuan desa secara bersama-sama. Proses menumbuk ini memakan waktu satu hari.

“Itu bahan semua, kita tembuk, tembuk bergotong royong, orang kampung seperti ibu-ibu numbuk sehari, karena memang sudah dikeringkan, lalu disatukan semuanya dan disimpan,” ujar Warga Desa setempat.

Di tengah pandemi virus corona, kata dia, proses memasak ie bu peudah di Desa Bueng Sidom diserahkan kepada remaja dan anak muda. Hal ini untuk mengisi aktivitas mereka pasca liburnya sekolah dan perkuliahan.

Masih sama seperti tahun-tahun lalu, saat akan memasuki bulan Ramadan. Seluruh warga di Desa Bueng Sidom berkumpul di masjid. Mereka membahas tentang pelaksaan tradisi memasak ie bu peudah tersebut.

“Saat akan memasuki bulan Ramadan, soal pembuatan ie bu peudah ada musyawarah desa terlebih dahulu, di sana ditunjuk siapa yang memasak. Tahun ini kita percaya kepada anak-muda yang memang dalam keadaan begini, orang ini tidak ada sekolah dan bisa mendapatkan sedikit biaya untuk lebaran,” kata dia. [sumber]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here