Home Destinasi Bireuen Paya Nie, Cerita Tenggelamnya si Putri Cantik

Paya Nie, Cerita Tenggelamnya si Putri Cantik

1

Di Aceh, ada beberapa cerita legenda yang cukup terkenal. Di Tapaktuan, Aceh Selatan, misalnya, ada legenda Gunung Putri Tidur dan tapak raksasa Tuan Tapa. Di Aceh Tengah juga ada legenda Putri Pukes, Atu Belah, Putri Ijo, dan Loyang Koro dan Paya Nie.

Tak jauh dari tempat saya tinggal ternyata ada juga cerita legenda, yakni legenda Paya Nie, hamparan rawa-rawa yang berada dalam wilayah Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen. Cerita ini mungkin sudah tak asing lagi di media sosial (medsos) dalam berbagai versi. Menurut saya, kisah ini menarik, maka saya sempatkan waktu bersama Pak Win dari Pemkab Bireuen mendatangi lokasi ini, untuk berwisata sekaligus ingin mendengar cerita langsung dari warga setempat.

Sore itu matahari mulai kembali ke peraduannya dan embusan angin yang menyentuh pipi seakan menemani perjalanan kami ke Kecamatan Kutablang. Setiba di Gampong Gle Putoh, kami berhenti di sebuah warung kopi (warkop) sederhana. Menurut seorang warga, warkop tersebut milik Pak Munawar, keuchik atau kepala desa di kampung ini.

Pertemuan kami tetap menerapkan secara ketat protokol kesehatan khas pandemi Covid-19, karena pada saat itu ada beberapa keuchik yang juga sedang menikmati minuman dan makanan orderan masing-masing di warkop tersebut.

Pak Munawar mengawali cerita bahwa pada tahun 2019 destinasi wisata Paya Nie pernah viral di medsos karena banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah dalam wilayah Bireuen maupun yang datang dari luar Aceh.

Menurut lelaki paruh baya ini, Paya Nie dikelilingi oleh tujuh gampong, yaitu Gle Putoh, Blang Mee, Kulu Kuta, Buket Dalam, Tanjung Siron, Crueng Kumbang, dan Paloh Raya. Hamparan Paya Nie ini bila dilihat dari udara menyerupai burung elang dengan 44 sayap, masing-masing sayap luasnya  ± 3 hektare. “Lokasi ini termasuk keramat,” tambah Pak Muhammad Ali, salah satu warga yang menetap di pinggir Paya Nie.

Pada masa konflik Aceh era ‘70-an, Paya Nie cukup berjasa membantu perjuangan para pejuang Aceh karena banyak pimpinan pejuang yang bersembunyi rawa tersebut. Saat hendak ditembaki, baik dari darat maupun udara, mereka tak terlihat oleh musuh, sehingga selamatlah mereka.

Tentang legenda Paya Nie, konon katanya ada seorang perempuan tua yang salihah memiliki tujuh anak. Perempuan itu bernama Cut Nie. Suaminya sudah lama meninggal. Dia tinggal di sebuah rumah yang dilengkapi berbagai peralatan rumah tangga, berada di tengah pulau.

Dia hidup dengan putri bungsunya bernama Putroe Nie, sedangkan anak-anaknya yang lain sudah pergi merantau.

Sebelum kelahiran putri bungsunya, Cut Nie bernazar akan menjaga putri kesayangannya itu dengan sangat telaten hingga dewasa dan akan dinikahkan dengan seorang pria tampan dari pulau seberang.

Singkat cerita, Putroe Nie tumbuh menjadi gadis jelita dan hendak menikah. Lalu pada suatu hari, setelah menjemur padi di halaman rumahnya Cut Nie minta izin pada Putroe Nie untuk pergi menyampaikan undangan kepada saudara-saudaranya dan mencari bahan yang diperlukan untuk persiapan pernikahan putrinya itu.  Sebelum berangkat, dia  berpesan agar sang putri tidak turun dari rumah untuk urusan apa pun, karena dia tak ingin anaknya itu tergoda oleh ‘piasan’ dunia luar. Dia juga mewanti-wanti, jika Putroe melanggar maka musibah akan menimpa mereka.

Sang putri yang jelita ini pun patuh pada ibunya. Dia duduk di tangga rumah sambil menjaga padi yang dijemur. Ketika menjelang sore ibunya tak jua kembali dan hujan tampak akan segera turun, Putroe berniat untuk mengumpulkan padi yang sudah dijemur agar tidak basah oleh hujan. Dia pun keluar rumah. Nah, ketika dia injakkan kaki di tanah tiba-tiba tanah menjadi lumpur dan hujan deras pun turun, disertai petir. Suara guntur membahana dan air bah naik begitu cepat., Putroe tidak mampu bergerak karena lumpur seakan mengikat kakinya. Dia akhirnya tenggelam tanpa jejak.

Ketika Cut Nie kembali, dia tidak lagi melihat anak dan rumahnya. Dia pun kemudian hilang tersedot rawa-rawa. Nah, cerita inilah yang menjadi dasar pemberian nama rawa-rawa yang dikelilingi tujuh gampong itu menjadi “Paya Nie”.

Awalnya, kawasan Paya Nie merupakan padang kering dan luas. Namun, setelah peristiwa di atas, Paya Nie menjadi bendungan sebagai sumber air untuk mengaliri sawah di sekitarnya. Di sini, ada masyarakat yang mencari ikan air tawar, seperti ikan gabus, gurami, bawal, dan lainnya untuk dikonsumsi sehari-hari. Ada juga masyarakat yang memanfaatkannya sebagai tambak untuk memelihara aneka jenis ikan air tawar.

Dahulu bahkan pernah suatu hari warga di seputaran Paya Nie bernama Cutda Ramlah dan  Khadijah mencari rezeki di lokasi ini. Mereka mencari sejenis rumput rawa sebagai bahan baku untuk menganyam tikar. Kemudian, ada Apa Mud yang mencari ikan di sana. Namun, mereka semua tenggelam di rawa tersebut pada waktu yang berbeda.

Salah seorang yang menetap di pinggir Paya Nie bercerita bahwa dulu masyarakat di seputarnya yang hendak kenduri tidak perlu meminjam perlengakapan kenduri di tempat lain. Mereka cukup membakar kemenyan putih saja, lalu meminta barang-barang yang diperlukan, maka barangnya akan timbul ke permukaan.

Menurut Pak Muhammad Ali, piring yang timbul itu besarnya seperti talam saat kenduri, tapi sayang setelah beberapa kali permintaan barang-barang tersebut tidak dikembalikan benda yang sama, selanjutnya upacara bakar kemenyan itu tak lagi berhasil mendatangkan piring dan perangkat lainnya. Beberapa tahun lalu memang ada yang menemukan beberapa piring seperti yang dimaksud dalam cerita ini dan warga meyakininya bahwa itu merupakan salah satu piring dari masa lalu itu.

Saat ini kondisi Paya Nie tidak terurus, hal ini disebabkan pada tahun 2019 salah satu desa menjadikannya objek wisata yang didanai dengan anggaran badan usaha milik gampong (BUMG). Namun, prakarsa ini mendapat protes dari desa lain, karena status Paya Nie adalah kepemilikan bersama dari tujuh gampong yang mengitarinya. Alhasil, objek wisata itu tidak terpelihara lagi, akhirnya kembali menjadi aset pemerintah. Ujung-ujungnya, Paya Nie saat ini dipenuhi gambut dan gulma sehingga tak ada yang berani menjamahnya.

Bila dilihat dari legendanya, Paya Nie ini sebetulnya menarik dijadikan destinasi wisata, mengingat di banyak tempat legendalah yang “dijual” sebagai daya tarik wisata. Hal ini hanya akan terwujud bila pemerintah melalui dinas pariwisata setempat mengambil alih pengelolaannya. Perlu juga dukungan dari tenaga ahli bidang pariwisata, sehingga diharapkan mampu mendongkrak peningkatan pendapatan masyarakat di seputar rawa yang mengandung nilai historis ini. Semoga.

Penulis : CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Kutablang, Bireuen




1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here