Home Destinasi Aceh Besar Yuk Healing ke Lhoknga Riverside!

Yuk Healing ke Lhoknga Riverside!

0

Lhoknga Riverside adalah sebuah kawasan hunian privasi yang menawarkan keutuhan alam. Berdiri di atas lahan 25 ribu meter persegi, resor LRS bukanlah “temuan” baru bagi destinasi wisata Aceh.

Perjalanan Minggu pagi itu, dua pekan lalu, seperti traveling saja; kami mengunjungi tempat yang jarang dikunjungi orang, tidak begitu terencana dan spontan. Lebih kepada menikmati proses perjalanan itu sendiri, bukan tujuannya. Kami menyukainya karena ada kejutan-kejutan; cenderung ingin mencari inspirasi dan seperti kembali menemukan jati diri.

“Ya, ditunggu, aku sedang persiapan mau ke luar sebentar,” suara lawan bicara bang Ilham Sahim, teman kami yang memandu perjalanan, terdengar jelas dari speaker handphone Nokia “jadulnya” yang berwarna pink. Awalnya, kami mengira itu cuma komunikasi biasa. Rupanya, dari komunikasi itulah pintu masuk traveling menakjubkan dimulai; menyambangi Resor Lhoknga Riverside (LRS), sekaligus menyusuri hijau serta teduhnya air Krueng Raba!

Ini ide bagus dan hebat! Padahal, tujuan awal cuma ingin nyantai di pantai Lhoknga sambil menyasar kuliner yang ada. “Tempat ini luar biasa indahnya!” Komentar teman yang baru pertama melihat resor LRS, beberapa saat setelah menjejak punggung latar resor itu.

Dari ujung jembatan Lhoknga, resor LRS hanya terpisah pagar beton pembatas. Letaknya persis sebelah kiri sebelum markas tentara. Seberang kanannya adalah lokasi wisata pantai Pulo Kapuk. Memang, jika tak fokus tujuan, resor LRS sering terlewati karena kawasannya agak tertutup.

Bang Syamsul, pemilik resor yang ditelpon bang Ilham Sahim tadi, begitu kami tiba, muncul dari sisi kanan tubuh rumah artistik berbahan aneka kayu dan batu. Dia melempar senyum ramah ke arah kami. Mengenakan celana sejajar lutut, kaos putih oblong, topi pet dengan kacamata hitam digantung di leher, bang Syamsul menyapa penuh ramah. “Silahkan…silahkan…,” katanya.

Lelaki handsome 62 tahun ini tampak masih bugar. Tampilannya lebih muda dari usia sesungguhnya. Begitu juga jiwa dan pikiran-pikirannya ketika kelak ngobrol dengan kami. “Ngopi, ya, kita,” ajak bang Syamsul sambil berjalan ke arah dapur. Dia mengambil ketel elektrik, lalu memanaskan air dan menyeduh kopi untuk kami berempat.

Pagi itu, memang, langit Lhoknga yang sohor tampak cerah. Hempasan udara laut samudera Hindia yang kencang menyapu jalanan, menegaskan kawasan ini tak berjarak jauh dari bibir pantai. Apalagi penampakan beberapa perahu nelayan di mulut sungai Krueng Raba. Ini sudah mendeskripsikan aktivitas rutin warga sekitar yang hendak pergi dan pulang menangkap ikan di laut lepas.

Lhoknga Riverside adalah sebuah kawasan hunian privasi yang menawarkan keutuhan alam. Berdiri di atas lahan 25 ribu meter persegi, resor LRS bukanlah “temuan” baru bagi destinasi wisata Aceh. Hanya saja, masih banyak orang yang belum tahu keberadaan resor ini karena minimnya promosi.

Diluncurkan pemakaiannya pada Juli 2016, bang Syamsul dan istri (keduanya penggagas dan owner) harus rela merogoh kocek hampir Rp1,5 miliar untuk memenuhi impiannya mendirikan sebuah kawasan resor yang asri dan terintegrasi dengan alam. Dia membangun 12 kamar dengan fasilitas Air Conditioner,  non Air Conditioner, TV LCD, Wifi, dan fasilitas pendukung lainnya.

Harga sewa pondok yang ditawarkan pun relatif terjangkau yaitu dikisaran Rp250 ribu hingga Rp500 ribu permalam. “Ada juga wisatawan dari Jerman yg menyewa kamar pertahun. Tentu harganya lebih murah,” sela bang Syamsul sambil menghidangkan minuman kopi ala Lhoknga Riverside.

Sembari menyeruput kopi hitam, panas, dan mmm…aromanya, semilir angin terus berdesir di antara pepohonan kelapa, mangga, aneka bunga, bahkan pohon kurma yang tumbuh di sekeliling resor. Sesekali, terdengar cuitan burung dari balik rindangnya bebatang pepohonan. “Di sini kita juga menyewakan boat, kayak paddle boardsurf board. Ada juga pelatih surfing dan kitesurfing,” jelas bang Syamsul.

Dia juga bercerita tentang cuaca Lhoknga yang dipengaruhi dua musim angin yaitu barat dan timur. Musim timur itu, katanya, dimulai pada Oktober hingga April. Pada musim ini, umumnya, yang datang itu tourist surfing. Sedangkan pada Mei sampai Oktober suasananya berbeda lagi, yaitu agenda tourist kitesurfing.
 
Habis ngobrol tentang bisnis wisata sambil ngopi dan menyantap makanan ringan, bang Syamsul menawarkan ide menjelajah Krueng Raba hingga ke hulu mata air sungai itu. “Ada gua yang menghubungkan Lhoknga dengan Lamno, Aceh Jaya, di sana. Tapi sudah tertutup, gak bisa dilalui lagi,” cerita bang Syamsul yang semakin mengunggah semangat traveling kami.

Dan ternyata, belum lagi kami sempat berpikir lama, dua karyawan bang Syamsul sudah menyiapkan segala perlengkapan “berlayar”, termasuk mesin speedboat, plus enam rompi pelampung. “Gak usah pakai itu, pindah saja,” kata bang Syamsul sambil menggerakkan punggung lima jari tangannya ke depan, ke arah baju pelampung yang sudah digeser dari halaman pondok ke perahu.

Entah dengar atau tidak, staf bang Syamsul seperti tak memedulikannya. Equipment perahu itu pun tetap dibawa. “Syukurlah, soalnya aku gak pandai berenang,” celetuk seorang teman.

Persis menjelang tengah hari, speedboat yang dikemudikan Agam, bergerak merambat menyusuri tenangnya air Krueng Raba. “Gak jauh, paling makan waktu sekitar satu jam lebih pulang pergi,” bang Syamsul menyemangati kami.

Menakjubkan, benar-benar menakjubkan. Sepanjang perjalanan, mata kami menyapu seluruh sisi kiri dan kanan sungai yang ditumbuhi hutan muda dan kebun penduduk. Airnya yang hijau, meski di beberapa bagian kelihatan tumpukan sampah ranting pohon yang membusuk, pesona Krueng Raba tetap mengasyikkan.

Di perjalanan yang meliuk-liuk, kami juga melihat beberapa utas tali tambang sepanjang lebar sungai yang diikat dari seberang kanan dan kiri sungai. Kami sempat saling tanya untuk apa tali itu. “Itu untuk getek penyeberangan warga,” kata bang Syamsul menjawab rasa penasaran kami.

Beberapa menit setelah itu, kami pun sampai di hulu Krueng Raba. Dinding batu cadas gunung yang menjulang tinggi di depan sukses menyihir angan-angan kami yang baru pertama kali datang. Wow, keren…. Indah sekali! “Tapi tampak kurang perawatan, ya,” sela bang Ilham.

Rasa takjub itu tak kami biarkan lama, hanya beberapa saat saja. Kami pun tak turun ke darat meski hasrat berkeinginan lain. Selesai sesi pemotretan dan menganggumi keindahan alam sungai, hutan, dan pegunungan Lhoknga, kami langsung putar haluan kembali ke resor Lhoknga Riverside. Banyak cerita yang dibangun dalam perjalanan dari hulu menuju hilir Krueng Raba. Di antaranya rasa lapar yang terpapar di perut dan ubun-ubun.

Selepas makan nasi bungkus khas Aceh di dermaga Lhoknga Riverside, kami pun beranjak ke seberang jalan resor LRS menuju pantai Pulo Kapuk. Di sini, bersama rekan bisnisnya, bang Syamsul tengah membangun resor dan resto untuk ikut mengepakkan sayap industri pariwisata Aceh. Bagaimana lagi ceritanya? Yuk, segera traveling ke Lhoknga Riverside! Pasti Anda bangga punya cerita berbeda di sini! 
 

sumber : https://www.kba.one/news/yuk-traveling-ke-lhoknga-riverside/index.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here