Siapa yang tidak mengenal cerita Malin Kundang yang merupakan cerita rakyat yang terkenal berasal dari Sumatera Barat. Di Aceh, legenda serupa bernama Amat Ramanyang. Anak durhaka yang dikutuk menjadi batu karena durhaka dengan ibunya. Batunya terdapat di desa Lamreh , Kecamatan Mesjid Raya Aceh besar.  Untuk sampai di batu Amat Ramanyang kita bisa menumpang boat dan menempuh hampir satu mil atau sekitar 1,5 km dari Pantai Leuen Lhok

Batu Amat Ramanyang sebenarnya lebih layak disebut pulau kecil.  Ketinggian dari batu ini lebih kurang sebatang pohon kelapa. Di sisi selatannya, tampak lobang tembus di bagian bawah batu. Di puncaknya, undakan batu menyerupai kepala manusia yang tengah menatap Selat Malaka.

Menurut cerita Amat Ramanyang merupakan seorang pemuda dari desa di Aceh Besar. Suatu masa ia ingin merantau meninggalkan ibunya di kampong karena tidak tahan menjadi orang miskin. Ibunya mengizinkan asal tidak lupa terhadap orang tuanya apabila nantinya ia berhasil. Akhirnya dia berangkat dengan perahu melalui Selat Malaka. Setelah bertahun-tahun akhirnya ia kembali ke Aceh. Ibunya punmendengar kepulangannya dan sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya yang sudah sukses kini.

Amat Ramanyang pun melihat seorang perempuan tua di daratan begitu tiba di Teluk Krueng Raya. Perempuan itupun meneriakinya “Nak, ini Ibumu”, seraya menyodorkan bu kulah atau sebungkus nasi selayaknya adat menyambut tamu dari jauh. Namun Amat Ramanyang tak mengakui dan mengabaikannya. Akhirnya, ibunya marah besar dan mengeluarkan kalimat kutukan tanpa sengaja “Terkutuklah kamu,Nak”. Badai pun datang lalu menenggelamkan lelaki itu beserta kapalnya. Begitulah kisah Amat Ramanyang.

Selain simbol dari cerita tersebut, Pulau Amat Ramanyang juga konon terbentuk akibat perang pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda. Meriam yang diluncurkan kolonial menghantam batu karang yang menonjol ke laut itu sehingga mengalami perubahan bentuk.  Di sepanjang pantai kawasan Aceh Besar itu memang ada beberapa benteng peninggalan perang jaman dulu.

Cerita Amat Ramanyang entah benar ada sejarahnya atau tidak, sejatinya mewakili pesan universal, bahwa sejatinya tidak boleh kita sebagai anak durhaka kepada orang tua karena pasti ada akibat buruknya.

EKY MOMONG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here