Meulaboh – Buraq Lam Tapa bersyair. Suara seraknya terdengar nyaring. Ia mengisahkan Sidalupa yang terusir dari kampung halamanya di India, karena suatu kesalahan yang membuat sang raja murka. Dalam keadaan ketakutan yang teramat sangat, keduanya melarikan diri dengan sebuah perahu buntung mengarungi Samudera Hindia.

Nyan diceriterakan dalam bab pertama, Sidalupa diplung ngoen peraho buntong (itu diceriterakan dalam bab pertama, Sidalupa melarikan diri dengan perahu buntung),” Buraq Lam Tapa bersyair mendayu-dayu.

Berdua kakak beradik itu terombang-ambing di tengah lautan. Nama mereka adalah Sidal dan Upa. Maka dikenal dengan Sidalupa. Dapat juga bermakna Sida lupa keu adek, adek lupa keu da (Kakak lupa adik, adik lupa akan kakak).

Setelah terombang ambing di tengah laut, datang angin kencang dan puting beliung, terhempaslah keduanya ke lautan. Hingga akhirnya Sidalupa terdampar di pesisir barat Aceh. Di kejauhan Sidalupa melihat  dua pohon Aron (pinus). Keduanya mendekat ke pantai menggunakan perahu buntung ke bibir pantai Kuala Bubon.

Masih melalui syair yang dilantunkan Buraq Lam Tapa, Sidalupa sampai ke Cot Amun, sekarang masuk Kecamatan Samatiga, mereka berdua kelelahan sampai tertidur. Mereka melanjutkan perjalanan hingga ke Cot Kuyun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here