Home Budaya Tradisi Peupok Leumo Adu Gengsi Peternak Sapi Aceh

Tradisi Peupok Leumo Adu Gengsi Peternak Sapi Aceh

0

“HUA… huaa… h u a a a a . . . ayo, tanduk, hajar,” teriak pria jangkung dan berkulit gelap itu. Ia memegang erat tali di moncong ‘Rincong Meuh’ tatkala menghadapi ‘Kereta Api’ di Lapangan Bola, Gampong Rukoh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Khazanah budaya Nusantara memang begitu unik dan beragam. Jika di Madura, Jawa Timur, ada karapan sapi, Provinsi Aceh punya hiburan rakyat yang menggunakan sapi sebagai tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Tidak jelas memang kapan awalnya tradisi peupok leumo atau mengadu sapi dimulai. Namun, tradisi yang mampu memikat dan menghibur rakyat Aceh itu diyakini telah ada sejak zaman dahulu sebelum kemerdekaan.

Pria bernama Irwansyah, 35, warga Aceh Besar, mengaku Rincong Meuh, sapi peliharaannya, berhasil mengikuti arahan dan memenangi laga tersebut. “Setiap ada ajang peupok leumo, saya sudah mempersiapkan sapi-sapi terbaik untuk ditampilkan. Rincong Meuh, sapi pilihan saya tadi, ber hasil unggul dan mengalahkan Kereta Api, otomatis harga Rincong Meuh akan naik,” ujar nya. Meski sempat menuai kontroversi karena dikhawatirkan menimbulkan unsur judi dan me langgar syariat islam di Aceh, panitia peupok leumo men jamin perhelatan yang
ber langsung di Lapangan Bola, Gampong Rukoh, itu hanya se batas hiburan semata dan mereka tetap mempertahankan tradisi tersebut.

Selain itu, hal tersebut dapat merangsang pertumbuhan sapi agar lebih sehat dan berbobot. Ketua panitia tradisi peupok leumo, Mahyuddin, 60, mengatakan di tengah maraknya tontonan dan hiburan ala modern, atraksi tradisional itu tetap mendapat tempat di hati masyarakat. “Tidak ada perjudian di ajang peupok leumo. Guna menjamin tradisi ini, panitia telah menggunakan peraturan baku yang telah disepakati,” sebutnya. Mahyuddin menjelaskan ada beberapa aturan yang harus ditaati peserta dan tidak sembarangan sapi yang bisa mengikuti peupok leumo, seperti usia sapi harus berkisar empat sampai enam tahun dan sapi yang akan berlaga terlebih dahulu disepakati siapa lawannya.

Waktu bertanding hanya 10 menit dan melakukan persiapan asupan gizi beberapa bu lan sebelum perhelatan di mulai. “Sapi yang akan beradu terlebih dahulu disepakati sesuai bobot, umur, dan waktu berlaga 10 menit bertujuan agar sapi tidak mati kelelahan. Jadi mengadu sapi tidak sampai mati,” kata dia. Dalam pertarungan, panitia dan belasan juri juga memantau pemilik lembu di lapangan agar tidak bermain curang, seperti tidak boleh mengarahkan sapi menanduk lewat samping dan memegang sapi tidak boleh lewat batas yang ditentukan.
“Sapi harus menyeruduk kepala lawan. Menanduk lewat samping itu menyalahi aturan peupok leumo, begitu juga jika meng arahkan sapi lewat batas tali yang ditentukan. Jika pemilik sapi main curang, langsung di diskualifi kasi,” terangnya.

Mempertahankan tradisi Banyak manfaat dapat diperoleh peternak sapi dari ajang peupok leumo. Selain hiburan dan mempertahankan tradisi di Aceh, menurutnya para peternak sapi akan termotivasi untuk terus menjaga kondisi sapi dan meningkatkan bobot sapinya. “Panitia menentukan syarat beberapa bulan sebelum peupok leumo dimulai, peternak akan memberikan usapan gizi yang baik untuk sapinya, di antaranya seperti memberikan rumput pilihan, ampas tahu, susu, telur ayam, dan makanan bergizi lainnya,” kata pria yang telah 40 tahun bergelut di peternakan sapi itu. Mahyuddin mengatakan setiap ajang peupok leumo akan dimeriahkan 50 sapi. Namun, setiap harinya hanya diadu 12 sapi saja. Harga sapi yang bertarung dan menang biasanya akan naik. Bahkan, harga seekor sapi yang menang bisa men capai Rp40 juta hingga Rp50 juta.

“Panitia hanya memberikan sertifi kat kepada peserta dan sapi yang memenangi ajang peupok leumo, sedangkan hadiah yang diberikan panitia ter gantung pemasukan dari ha sil penjualan tiket parkir ken daraan penonton karena ti dak ada sponsor,” lanjut Mahyuddin. Para penonton yang hadir di lapangan sangat antusias menyaksikan tradisi peupok leumo. Riuh penonton membahana saat pawang dan sapi memasuki arena adu. Gemuruh teriakan pe nonton juga bersahutan saat panitia menyebut satu per satu nama sapi itu, di antaranya Pa yong Meuapet, Kereta Api, Na ga Jepang, Rincong Meuh, dan Keurambet. Salah seorang warga Gampong Mireue, Ulee Kareng Banda Aceh, 50, mengaku tidak pernah melewatkan kesempatan menyaksikan pertunjukan peupok leumo.

Sejak puluhan tahun ia ketagihan menonton ketangkasan sapi menyeruduk lawan. Taktik dan kehebatan sapi juga menjadi ketertarikannya. “Rincong Meuh dan Payong Meuapet sa ngat lincah dan tangkas pa dahal badannya lumayan besar, seperti nonton tinju,” kata dia. Ketua Majelis Adat Aceh Ba druzzaman Ismail, kepada Me dia Indonesia, mengatakan tradisi dan budaya Aceh tidak bertentangan de ngan syariat Islam. Hingga kini, ia belum menemukan ulas an peupok leumo dalam manuskrip Aceh meski peupok leumo sudah ada sejak dulu
di Aceh. “Memang sejak kecil saya sudah mendengar peupok leumo. Namun saya belum menemukan asal usul kapan pastinya ada peupok leumo dan bisa disebut sebagai tradisi,” kata dia.

Menurutnya, peupok leumo hanya ada di kalangan masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar, sedangkan jika itu disebut tradisi seharusnya dilakukan semua kalangan masyarakat Aceh dan memiliki nilai edukasi. Selain itu, jika adat adanya momentum disertai tata pelaksanaannya, seperti adat kenduri laot, kenduri blang, adat peutron anuek, dan adat perkawinan. “Selain itu, sebuah adat tidak bertentangan syariat, misalkan timbulnya perjudian hingga menyebabkan kematian binatang. Sementara itu, peupok leumo juga tidak memiliki
momentum khusus ka pan pelaksanaannya,” sebutnya.

Semasa Ke sultanan Aceh, peupok eumo sering digelar di bantaran Krueng Aceh oleh kaum ulee balang dan kian populer semasa penjajahan Belanda pada 23 Maret 1873. “Dulu sepanjang daerah aliran Sungai Krueng Aceh banyak ter dapat kandang sapi warga karena daerah itu subur dengan rerumputan. Jadi setiap sore, para peternak mengadu sa pi mereka hingga menjadi tontonan gratis bagi masyarakat di sekitar,” pungkas Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here