Home Bisnis Usaha Sobotik yang Ramah Lingkungan

Usaha Sobotik yang Ramah Lingkungan

0
Zai duduk di balai kayu. Bersila sambil memangku balita laki-lakinya. Mereka duduk di antara himpunan botol plastik yang telah diselotip. Tumpukan sofa menyerupai tabung dengan varian warna putih dan hitam, ada di antaranya.

Seorang perempuan menghampiri Zai. Balita yang ada di tangan dan dekapannya sedari tadi, diserahkan berpindah ke pelukan perempuan itu. Tak lain, adalah istrinya.

Pria bernama lengkap Zainuddin tersebut merupakan pengerajin sofa, namun bukan sofa biasa. Ia memproduksi perabot rumah tangga tersebut dengan memanfaatkan botol plastik air mineral yang telah dipakai. Usaha itu diberi nama Sofa Botol Plastik (Sobotik)

Usahanya tersebut terbilang baru. Pria kelahiran Bireuen 1993 itu merintisnya di tengah pandemi mewabah. Ia kala itu tidak mempunyai pekerjaan, berinsiatif mencoba berkreasi guna mencari rupiah melalui daur ulang sampah.

Idenya semakin terasah usai melihat beberapa video di Facebook dan YouTube mengenai pemanfaatan botol plastik air mineral yang sudah tidak dipakai dan bisa dimanfaatkan untuk membuat perabot rumah tangga.

Angin mengalunkan lembaran dedaunan pohon mangga yang ada di halaman rumah Nomor 62 di Jalan Nawawimiga, Gampong Lampaseh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Bahkan, hembusannya ikut mengayunkan serangkai botol plastik lainnya yang sengaja digantung di dahan itu.

Disela itu, istri Zai beranjak bersama putra mereka. Sejurus kemudian, pria berusia 28 tahun itu bergerak meninggalkan bangunan yang memiliki lantai nyaris sama dengan seukuran meja biliar tersebut.

Langkahnya tertuju pada tumpukan goni yang berisi botol plastik air mineral bekas yang ada di halaman samping kiri rumahnya. Sembari menuju ke situ, Zai meraih galon yang telah dia desain sedemikian rupa.

Begitu cekatan. Tangannya lihai memilah botol-botol dan meletakkannya ke wadah galon. Satu, dua, tiga, dan tak sampai habis hitungan semua jari, dirinya telah menyeleksi beberapa botol yang bentuknya serupa.

Tahapan ini dianggap penting dijalankan, sebab keseragaman botol untuk menghasilkan satu kursi sangat menentukan kualitas yang dihasilkan. Meski pada umumnya, semua sisa botol plastik bisa digunakan asalkan kondisinya masih memungkinkan.

Zai lalu membawanya ke tempat pencucian yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat memilah botol tadi.

Botol-botol itu, satu per satu ia sikat dan dicuci dengan menggunakan sabun. Langkah tersebut dikatakannya, sebagai upaya membersihkan barang bekas itu dari kotoran.

“Kita cuci untuk mensterilkan,” kata pria lulusan Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry itu..

Semua botol yang ia pilih tadi telah habis dicuci. Selanjutnya, botol-botol tadi dibawanya ke balai yang dia duduki sebelumnya. Lalu ia tata dengan posisi mulut botol ditelungkupkan ke lantai. Tujuannya untuk pengeringan.

Sambil menunggu botol-botol yang baru dicucinya itu kering, Zai meraih beberapa botol lainnya. Botol itu lalu dihimpun dan dibentuk membundar. Agar bentuknya tidak berubah, ia mempereratnya dengan selotip hingga beberapa balutan.

Sembilan belas botol plastik ukuran 1,5 liter telah bermetamorfosis selayaknya tabung. Tak lagi mudah terpisah usai selotip begitu erat membalutnya. Malah, botol-botol itu sudah bisa diduduki layaknya kursi.

Walau begitu, rangkaian botol itu dikatakan alumnus SMA Negeri 1 Matangkuli, Aceh Utara tersebut, tentunya harus dipercantik lagi agar bentuknya benar-benar menyerupai perabot rumah tangga.

Misal, di bagian atas nantinya akan diletakkan busa, disarungi menggunakan kulit sofa, dialas menggunakan tripleks, dan dipasang kaki.

“Untuk membuat satu kuris itu kalau kita kerja dari pagi sampai sore, itu satu hari satu. Itu di mulai dari cuci botol sampai jahit sarungnya dan potong tripleks dilakukan secara mandiri,” ungkapnya.

Manfaatkan Instagram untuk Pemasaran

Di tengah waktu senggang usai menyelesaikan satu kursi, Zai yang masih duduk di balai kayu, menceritakan bagaimana ia menjual sofa yang telah diproduksinya.

Produksi sofa diakuinya, tidak setiap hari dilakukan. Ia bekerja setelah adanya pesanan dari pembeli sehingga ayah satu anak ini bisa mengisi waktu dengan pekerjaan lain dan mencegah terjadinya penumpukan hasil produksi di rumahnya.

Guna menggaet pembeli, foto-foto sofa yang telah diproduksi dan laku terjual kerap dipromosikan melalui media sosial Instagram milik Sofa Botol Plastik @sobotik.official.

Ada beberapa jenis sofa yang diproduksi dan ditawarkan Zai kepada calon pembeli di Sofa Botol Plastik. Di antaranya sofa tunggal (single), dobel, dan set untuk keluarga.

Sofa tunggal biasa digunakan di meja rias. Sementara sofa dobel terdiri dua kursi dan satu meja yang bisa dimanfaatkan di teras atau sudut baca. Sedangkan sofa set keluarga terdiri dari empat kursi dengan satu meja.

“Untuk harganya kisaran Rp300 ribu sampai Rp1,5 juta, itu tergantung pemesanan. Sebab ada warna polos dan bermotif,” sebut Zai.

Untuk saat ini, penjualan Sofa Botol Plastik yang diakui Zai mampu menahan beban hingga 196 kilogram tersebut, baru mencangkup wilayah Banda Aceh dan beberapa kabupaten kota lain di dalam Aceh.

Walau masuk dalam usaha mikro, namun dirinya belum tertarik dan tidak mau menggantungkan harapan dari program bantuan Usaha Mikro, Kecil dan Menegah (UMKM) pemerintah.

Adapun alasan Zai tetap menekuni bisnis Sofa Botol Plastik meski saat ini telah memiliki pekerjaan lain, karena bisnis perabotan rumah tangga merupakan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat serta bisa menjaga lingkungan dengan mengurangi sampah plastik terbuang yang sulit terurai.

Tidak hanya itu, bahan utama yang digunakan adalah botol plastik. Barang yang bisa dengan mudah didapatkan hampir di setiap sudut kota. Sebab sudah menjadi sisa dan kerap tidak dipakai lagi.

Dalam sehari pria yang pernah mengajar di sekolah alam dan terlibat di dunia pendidikan daerah terpencil itu, bisa mengepul ratusan botol plastik yang didapatkan dari taman maupun jalan protokol di Kota Banda Aceh.

“Untuk prosesnya, kita saat ini masih cari sendiri. Namun ke depannya, mungkin bisa kita ambil dari pemulung,” ujar Zai.

“Kalau bisa saya akan ambil botol itu di atas harga yang mereka jual biasanya. Tujuannya, agar ekonomi mereka meningkat,” imbuhnya.

Selain itu, usaha memproduksi sofa botol plastik yang dimulai Zai secara mandiri sejak November 2020 itu mempunyai konsep besar. Dia berkeinginan menghasilkan produk lain dari sampah plastik selain membuat sofa.

Anak dari pasangan Ibrahim dan Rohana ini juga memiliki sebuah impian lainnya yang terbilang besar. Ia ingin nantinya di Banda Aceh, memiliki satu galeri yang menampilkan hasil produk dari pemanfaatan daur ulang sampah.

Tentunya barang-barang yang dipajang bukan hanya miliknya semata. Lebih tepatnya, hasil kerajinan dari seluruh kreativitas masyarakat yang memiliki nilai edukasi dan ekonomi. Sekaligus menyosialisasikan tentang pentingnya menjaga lingkungan.

“Kita mengambil sedikit bagian lah dari menyelamatkan dan pelestarian lingkungan serta edukasi,” kata Zai.

Cita-cita Zai, usaha daur ulang sampah plastik ini menjadi perabotan rumah tangga, dapat masuk ke sekolah-sekolah sebagai upaya edukasi. Bisnis ini nantinya aka nada satu workshop anak sekolah.[sumber: readers.id]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here