Aceh. Provinsi paling barat di Tanah Air ini memiliki aneka pesona di dalamnya. Setelah bencana tsunami menerjang provinsi tersebut pada 2004, perlahan masyarakat Aceh bangkit dan menata kembali kehidupan sosialnya. Pariwisata di sana pun terus menggeliat dari waktu ke waktu. Nah, salah satu kota yang layak dikunjungi saat singgah di Aceh adalah Sabang.

Saya menyaksikan sendiri pesona wilayah ini saat melaksanakan Ekspedisi Segaris beberapa waktu lalu. Jika mengunjungi Kota Sabang, jangan sampai kamu melewatkan untuk berkunjung ke Monumen Kilometer Nol yang berada di Desa Iboih, Kota Sabang, Provinsi Aceh. Seperti namanya, Monumen Kilometer Nol ini berada di titik kilometer 0 Indonesia yang dimulai dari ujung utara Pulau Weh. Pulau Weh sendiri merupakan wilayah paling barat yang ada di provinsi Aceh, sekaligus Indonesia.

Dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari Kota Sabang untuk sampai ke monumen ini. Selama perjalanan, wisatawan akan disuguhkan oleh keindahan alam dari Pulau Weh. Pemandangan menarik berupa hutan perbukitan yang hijau serta pantai-pantai dan pulau-pulau eksotis akan membuat para wisatawan takjub dengan keindahannya. Setelah menempuh perjalanan yang berkelok dan menanjak, wisatawan akan tiba di Kawasan Wisata Kilometer Nol. Saat tiba di kawasan tersebut, tak jarang wisatawan dapat melihat sekelompok monyet-monyet liar di sepanjang jalan.

Monyet-monyet tersebut menatap setiap kendaraan yang melintas di hadapan mereka, berharap mendapat makanan dari para wisatawan yang berkunjung. Monumen Kilometer Nol ini pertama kali diresmikan pada 9 September 1997 oleh Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, yang menjabat pada masa tersebut. Kemudian dua minggu setelahnya, pada tanggal 24 September, B.J Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi menambahkan prasasti yang menjelaskan tentang penetapan posisi geografis kilometer nol Indonesia. Pengukuran tersebut dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dengan menggunakan global positioning system.

Saat ini bangunan monumen tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi dan terlihat semakin megah. Menurut prasasti, bangunan monumen itu memiliki ketinggian 43,6 meter di atas permukaan air laut. Sementara itu, bangunan monumennya memiliki beberapa filosofi, yaitu empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol dari batas-batas negara Indonesia, Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Adapun lingkaran besar yang ada di tugu merupakan analogi dari angka 0.

Pada Monumen Kilometer Nol juga terdapat ornamen berbentuk segi delapan yang menggambarkan delapan penjuru mata angin. Tak hanya itu, pada bangunan dari monumen ini juga terdapat senjata rencong yang menjadi simbol bahwa masyarakat Aceh turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Wisata monumental tersebut sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Jika kamu ingin berkunjung ke tempat ini, kamu tidak perlu khawatir akan kesulitan dalam mencari parkir atau kuliner. Sebab, Monumen Kilometer Nol memiliki fasilitas yang memadai.

Di sekitar monumen, wisatawan bisa menemukan tempat parkir, toilet umum, dan musala. Wisatawan juga dapat membeli suvenir serta menikmati kuliner khas Aceh yang dijual oleh pedagang di sekitar monumen. [by kevin hendrawa]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here